Pages

Thursday, June 20, 2013

Keimanan dan Ketaqwaa




Keimanan dan Ketaqwaa
Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Iman artinya       :  Percaya, membenarkan
                           :  Kepercayaan/keyakinan yang datang dari hati sanubari, diikrarkan dengan lisan (ucapan) kemudian dibuktikan dengan perbuatan amal shaleh, oleh anggota badan.
Iman                   :  Pekerjaan yang berhubungan dengan perbuatan hati (batin)
Islam                  :  Pekerjaan yang berhubungan dengan perbuatan lahir (anggota)

            Kekuatan spiritual tidak hanya berarti agama, sebagaimana kebanyakan orang. Agama dan iman hanyalah merupakan mukadiman. Kekuatan spiritual mencakup akhlaq, pemikiran, pengetahuan, dan semangat manusia.
            Iman dan Islam tidak dapat dipisahkan, harus ada hubungan yang sangat erat, ibaratnya pohon dengan buahnya. Atau dengan kata lain, aqidah dan syari’at harus sejalan dan seirama. Kalau tidak, akan pincang dalam kehidupan ini. Oleh karena itu pula iman didefinisikan sebagai membenarkan sesuatu hal di dalam hati, menyatakan secara lisan dan melakukan di dalam tingkah laku.
Tanda-tanda iman disebutkan di dalam sunah Al Mukminun ayat 1 sampai 11 yang artinya :
1.   Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
2.   (yaitu) orang-orang yang khsusus’ dalam sebahyangnya
3.   Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
4.   dan orang-orang yang menunaikan zakat
5.   Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6.   Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
7.   Barang siapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8.   Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
9.   Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi
11. (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.
            Beberapa hadis nabi juga menyebutkan masalah iman, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, ”Iman itu bercabang menjadi enam puluh lebih, dan rasa malu (untuk berbuat maksiat) adalah satu cabang iman” (Iman al Zabidi, 2002:12)
            Diantara enam puluh cabang iman tersebut disebutkan, seorang muslim adalah orang yang mencintai rasulullah, orang yang menjaga lidah dan tangannya, tidak menyakiti muslim lain, memberi makan orang lain, menghindari fitnah, memiliki rasa malu berbuat dosa, dan sebagainya. (Imam Al Zabidi: 2002: 112-17)
            Hubungan yang tidak bisa dipisahkan dengan iman adalah taqwa, kata ini memiliki beberapa arti, misalnya waspada, menjaga, mengendalikan dan memperkuat, yaitu menjaga diri dari azab Allah SWT dengan menjauhi tindakan maksiat dan melaksanakan tata aturan yang telah digariskan Allah SWT dan menjauhi larangannya. (Ensiklopedi Islam: 2002: 48)
           
             Adapun sasaran materi yang akan dibahas dalam masalah keimanan ini adalah keimanan secara garis besarnya yang tercantum dalam hadis Rasulullah s a w:





              Artinya:Iman ialah kamu percaya kepada Allah Swt, kepada para malaikat Nya, kepada Kitab-kitab Nya, kepada para Utusan Nya,kepada hari akhir dan percaya kepada adanya takdir baik yang baik maupun yang buruk.....( HR Muslim)

A.    Iman Kepada Allah Swt.
Kesediaan manusia untuk mengakui adanya Allah Swt, telah ditanam dalam jiwanya sejak berada di alam roh,sebelum menjelma di alam materi (dunia). Untuk lebih meyakinkan kebenaran ini , periksa pernyataan dari Yang Maha Benar dalam Qur’an Surat Al ’Araf ayat 172, perihal fitrah (naluri) manusia kepada agama.
                     Berdasarkan firman Allah tersebut, dapatlah kita terima kebenaran orang yang berpendapat bahwa pengakuan manusia tentang ada Nya Dzat Yang Maha Kuasa (Allah) itu muncul bersama-sama dengan munculnya manusia pertama, yaitu  nabi Adam a s.
                     Prof Dr C.C Yung, seorang ahli psychologi(non muslim) yang pernah mendapat hadiah Nobel tahun 1948, mengatakan bahwa: ”dalam jiwa manusia itu ada fungsi percaya  kepada Tuhan”.
Hanya disayangkan, bahwa pemikiran manusia yang telah siap untuk mempercayai Tuhan itu kurang mampu untuk menetapkan siapa dan bagaimana Tuhan itu sebenarnya. Oleh karena itu timbullah anggapan berbagai Tuhan. Dan dengan sendirinya pula timbul bermacam-macam agama buatan manusia (agama ardhiyah).
                     Diantara sekian banyak agama-agama itu, maka agama yang di bawa oleh para Rasul Allah mulai Nabi Adam as sampai kepada nabi Muhammad saw, yang dapat menunjukka manusia kepada Tuhan yang sebenarnya, yaitu dengan mempergunakan dalill-dalil dan Kitab suci yang bersumberkan kepada wahyu , kemudian di bantu oleh akal yang wajar dan benar. Rasulullah bersabda : yang artinya:
Agama seseorang ialah aqalnya;dan barang siapa tidak ada aqal(berarti) tidak pula ia mempunyai agama”.( HR Ibnu Hiban).
                           Agama adalah keyakinan, yang seharusnya jika kita ingin menganutnya, kita teliti terlebih dahulu, dianalisa kebenarannya, dipelajari secara kritis ajaran-ajarannya, sehingga agama yang kita anut betul-betul dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Allah, dan sesuai pula dengan fitrah.
                           Adapun syarat muthlaq dari pengakuan itu haruslah diucapkan dengan secara sadar, dan penuh dengan keinsyafan, yakni ”Dua kalimat syahadat”, dua kalimat sebagai ikrar atau pengakuan, yang tersusun dari :
·     Pengakuan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, disebut dengan syahadat tauhid : ”ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH”. ”Aku bersaksi tak ada Tuhan (yang disembah) melainkan Allah”.
·     Pengakuan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, disebut dengan syahadat Rasul : ”WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH”, ”Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad itu adalah pesuruh Allah”.

a.      Jalan Membuktikan Adanya Allah SWT
Banyak jalan yang dapat membuktikan ada-Nya Allah. Dalam hal ini sangatlah mudah asalkan saja kita mau mempergunakan akal fikiran, yaitu dengan memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Lihat Q.S. Adz Dzariyat : 20 – 21. Dengan demikian, cara beriman kepada Allah SWT adalah :
1.      Secara Ijmali/garis besar, yaitu meyakini Allah itu ada, menciptakan alam semesta, mengatur mahkluk-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang.
2.      Secara Tafsili/rinci, yaitu dengan mengetahui sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang indah (Asma’ul Husna)
      Sifat Allah tak terhingga banyaknya, tetapi secara Tafsili yang wajib diyakini ada 13 ditambah sifat maknawiyah. Jadi, keseluruhannya ada 20 dan sifat mustahilnya.
      Penghayatan keimanan kepada Allah itu dapat diwujudkan dengan sikap atau perilaku ebagai berikut :
1.      Jika disebut nama Allah SWT, bergetar hatinya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
2.      Tawakal, yaitu suatu sikap kepasrahan yang tulus dan hasilnya diserahkan kepada Allah.
3.      Rajin mengerjakan shalat dengan kusu’ dan tepat pada waktunya.
4.      Memiliki sifat khauf’ dan raja’.
5.      Menafkahkan sebagian rezeki yang diterimanya.
6.      Menghindarkan kata-kata yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan.
7.      Memelihara amanah dan menepati janji.
 
Di dalam kata taqwa juga terkandung makna pengendalian yang artinya menjaga keseimbangan diri dalam hal emosi, pikiran dan hawa nafsu. Ini berarti memenuhi dorongan-dorongan itu dalam batas-batas yang diperkenankan oleh ajaran agama, selain itu juga terkandung arti perintah kepada manusia agar ia melakukan tindakan yang baik apakah untuk Tuhan, dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan, misalnya berbuat adil, benar, memegang amanat, dapat dipercaya, menghindari perbuatan zalim dan sebagainya.
            Berbagai firmam Allah SWT dalam Al Qur’an menegaskan: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, nicaya Dia akan memberikan kepadamu al furqan, (petunjuk yang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil; pertolongan) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Dan Allah mempunyai karunai yang besar (QS Al Anfal 8: 29)
            Taqwa dalam arti menjaga diri dari siksaan dunia ditegaskan pula di dalam Al Qur’an: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS Al Anfal 8: 25) Iman dan taqwa mempunyai hubungan yang sangat erat, karena iman menyebabkan adanya konsekuensi kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukmin dan hak yang diberikan oleh Allah SWT selaku yang diimani, perbuatan dan ganjaran antara orang yang beriman dengan Tuhan yang diimani. Contoh tekstual dari Al Qur’an mengenai hal ini adalah hubungan sebab akibat antara si mukmin dengan Allah SWT yang memberikan ganjaran keimanannya: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al Anfal 8: 69)
            Masalah keimanan seringkali tidak sejalan dengan nalar pikiran manusia, sebab keduanya mempunyai wilayah tersendiri, karena itu Al Qur’an memberikan jembatan keduanya agar dapat menyatukan antara wilayah iman dan akal ke dalam satu kesatuan yang ada di dalam diri manusia. Rasa iman pada diri seorang mukmin sejati terhadap Allah SWT dapat dirasakan di dalam hatinya berdasarkan  pengalaman-pengalaman ruhaniahnya, di sisi lain akal pikiran manusia yang terus maju berkembang tanpa dikendalikan dengan iman, ia akan menjadi kufur.
            Iman merupakan pangkal utama karena ia akan menghubungkan kesadaran integral dengan Tuhan sebagai penentu tujuan hidup manusia, dengan demikian manusia tidak terpisah denganNya dan tidak menjadi orang-orang yang sekuler.
Tujuan Dinul Islam

            Islam adalah agama Tauhid, maka Islam menyeru kepada seluruh manusia supaya bertahuhid.
            Pertama : Menjadikan manusia supaya berjiwa tauhid. Secara tegas Allah telah menjelaskan dalma firmanNya dalam QS Al Ikhlas 1-4
            Tauhid atau iman termasuk pokok dalam ajaran Islam. Dan mengenai iman merupakan ajaran sepanjang sejarah manusia, ajaran tiap-tiap Nabi dan Rasul. Sejak Nabi Adam as, Idris as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan sampai Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Anbiya 25


Yang artinya :
dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ”Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang baik) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

            Kedua : Menjadikan manusia supaya bertaqwa. Dalam QS Al Baqarah: 281


Yang artinya :
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

            Sebagai seorang mukmin, hendaknya selalu ingat bahwa ia kelak akan dihadapkan kehadirat Allah untuk dimintai pertanggungjawabannya selama hidup di dunia. Dan satu-satunya jalan untuk mencapai kesuksesan dalam arti keselamatan hanyalah taqwa kepada Allah SWT.
            Setiap orang mukmin apabila ingin selamat dan memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat, maka manusia harus mengikuti dan mematuhi aturan dan petunjuk Allah SWT yang telah dituangkan dalam kitab suciNya.
            Dalam QS Al Baqarah ayat 2, Allah berfirman yang artinya: ”Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
            Sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, maka dalam kitab Allah tersebut menjelaskan tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan makhluk lain/alam lingkungan.

1.   Hubungan manusia dengan Allah SWT
            Hubungan manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam adalah dalam rangka penghambaan, pengabdian atau penyembahan. Dalam bahasa Arab, pengabdian disebut ibadah.
Firman Allah SWT


Artinya : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (QS Adz Dzariya: 56)

            Prinsip ajaran Islam mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT yang intinya adalah pengabdian atau penyembahan (ibadah) baik ibadah yang telah ditentukan Tuhan, misalnya : dalam rukun Islam maupun yang tidak ditentukan. Juga hubungan Tuhan dengan manusia yang intinya berisi tentang perintah yang dituangkan dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi.
2.   Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri
            Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Untuk mencapai keinginan tersebut tentu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Salah satu caranya adalah membekali diri dengan ilmu pengetahuan sebagaimaan dinyatakan dalam sebuah hadist yang artinya : ”Mencari dunia dengan ilmu, mencari akhirat dengan ilmu, mencari keduanya juga dengan ilmu.”
            Disamping membekali diri dengan ilmu, bahwa manusia juga berkewajiban mensyukuri segala perintah Allah yang ada pada dirinya sendiri, baik yang berupa jasmani maupun yang berupa akal dan rohani. Pensyukur dengan pengertian bertanggung jawab atas keselamatannya dan pengembangannya.
            Tiap-tiap diri berkwajiban memelihara dirinya, jasmani dan rohani dengan menjauhi perbuatan-perbuatan yang bisa mencelakakan diri sendiri, seperti minuman keras, narkoba dan lain sebagainya. Dalam QS Al Baqarah 195 yang artinya : ”Janganlah kamu gunakan tanganmu untuk perbuatan yang mencelakakan dirimu, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai kepada orang-orang yang berbuat baik
            Jadi manusia, harus berbuat baik terhadap dirinya sendiri. Merusak diri sendiri sama artinya dengan merusak diri orang lain. Membunuh diri sendiri termasuk dosa besar, sama dengan membunuh orang lain.      


 

0 comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll